Wae Rebo, Desa Eksotis Flores Yang Populer Di Kalangan Turis

Mau Sewa Mobil ELF, Hiace, atau Bus Pariwisata?

Dapatkan Mobil Pariwisata Berkualitas Dengan Harga Terjangkau, Diduukung Dengan Driver Yang Handal! HartoTrans - Selalu Siap Menemani Perjalanan Wisata Anda.

Negara kita adalah negara yang kaya. Bukan hanya kaya akan kekayaan alam, tetapi juga kaya akan budaya dan rekreasi. Rasa-rasanya kita mampu memperoleh kawasan-daerah indah di seluruh Indonesia. Indonesia Timur salah satunya, di sini berbagai terdapat kesempatanwisata yang beragam. Salah satunya adalah Wae Rebo, suatu desa eksotis yang terletak di Pulau Flores.

Lokasi dan Akses

Wae Rebo 1
Wae Rebo

Wae Rebo adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Lokasi dari Wae Rebo terbilang sungguh terpencil dan terisolasi sebab terletak di balik hutan. Kamu harus menembus hutan sepanjang 9 km untuk mampu meraih desa terdekat dengan Wae Rebo.

Untuk meraih Wae Rebo, ada beberapa cara yang mampu kau tempuh. Pertama, kamu mampu melaksanakan perjalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng. Sesampainya di Ruteng, kamu mampu melanjutkan perjalanan memakai ojek hingga ke Dintor. Dintor merupakan desa terakhir yang bisa diakses dengan kendaraan sebelum sampai di Wae Rebo.

Baca juga : 19 Tempat Liburan di Indonesia yang Trending tahun ini

Perjalanan dengan ojek ini mampu mengkonsumsi waktu sampai dengan 2 jam. Tarif ojek ini pun bukan seperti tarif ojek kebanyakan, adalah sekitar 150.000 Rupiah. Harga yang kamu bayar ini setimpal dengan perjalan yang harus ditempuh, melalui bukit terjal, menyusuri hutan, dan juga tepian pantai.

Pilihan kedua, dengan memakai truk (oto kayu) dari Ruteng. Dari Terminal Bus Mena, truk ini akan menenteng kau melintasi Desa Cancar, Pela, Todo, dan Dintor sebelum kamu akhirnya meraih Desa Denge. Oto kayu lazimnya berangkat dari terminal di sore hari. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 sampai 3,5 jam.

Wae Rebo 2
Wae Rebo

Cara ketiga adalah dengan memakai bahtera. Rute yang mesti kau tempuh lewat Labuan Bajo menuju selatan ke arah desa pesisir Nangalili. Biaya yang diperlukan untuk menyewa bahtera sekitar 400.000 Rupiah. Karena tidak ada acara perahu biasa, sangat disarankan untuk charter kapal di wajah. Perahu untuk perjalanan akan mengkonsumsi waktu sekitar dua jam dan menenteng kau menyeberang ke Pulau Mules. Setelah datang di Dintor, melanjutkan perjalanan ke Denge dengan ojek. Tarif ojek sekitar 10.000 Rupiah dengan waktu tempuh selama 20 menit.

Cara ke Wae Rebo yang keempat yaitu dengan hiking. Hiking atau mendaki ini mampu kau tempuh dengan mengambil jalan antara homestay lokal dan SDK desa (SD). Selama perjalanan, kamu akan melalui tiga daerah istirahat, yakni Sungai Wae Lomba yang kurang dari satu jam perjalanan dari Denge. Kemudian setelah trekking selama satu jam, kamu akan memperoleh daerah peristirahatan kedua, yaitu Pocoroko.

Ini ialah daerah yang penting bagi masyarakatdesa (dan hadirin) yang ingin melakukan panggilan telepon dan mengantarpesan teks dari ponsel mereka, alasannya tidak ada sinyal selular. Dari Pocoroko kau akan meraih pos ketiga, adalah Nampe Bakok, yang memakan waktu sekitar 40 menit perjlanan. Dari sini, kau mampu menikmati panorama bukit yang indah sebelum kamu meraih Wae Rebo.

Baca juga : Cara menerima tiket pesawat murah untuk berlibur

Selayang Pandang

Wae Rebo 3

Wae Rebo ialah desa Manggaraian tua yang terletak dan terisolasi di tempat pegunungan. Desa ini menawarkan kesempatan bagi para pelancong uantuk melihat sisi otentik perumahan Manggarai dan mengalami kehidupan sehari-hari penduduk setempat. Di desa ini, kau berkesempatan melihat mbaru niang, yang merupakan rumah akhlak tradisional berupa kerucut melingkar dengan arsitektur yang sangat unik.

Hingga saat ini, mbaru niang masih dipakai sebagai tempat mengadakan pertemuan atau ritual doa Minggu pagi bahu-membahu. Rumah adab tradisional ini sempat mengalami abad-kurun memprihatinkan, di mana kondisinya telah mulai lapuk. Tetapi pada tahun 2008, akibat kunjungan dari Yori Antar dan mitra-kawan, rumah ini mampu diselamatkan.

Pada tahun 2010, yayasan Rumah Asuh mulai merenovasi rumah-rumah ini. Bahkan dalam pembangunannya, pihak swasta dan pemerintah ikut membantu. Sehingga rumah yang awalnya hanya tinggal empat buah saja dengan keadaan yang memprihatinkan, dikala ini sudah lengkap menjadi tujuh buah dengan keadaan yang baik.

Bila dibandingkan dengan turis dari dalam negeri, bantu-membantu Wae Rebo sudah lebih dulu terkenal sebagai sebuah daerah rekreasi di kalangan turis abnormal. Sejak sebelum tahun 2000an, sudah banyak wisatawan abnormal yang datang berkunjung. Oleh karena itu, mulai permulaan tahun 2000an masyarakatsetempat berupaya untuk mengenalkan Wae Rebo pada penduduk luas di Indonesia, dengan cara memasang foto-foto desa mereka di beberapa hotel ataupun travel agent di Ruteng.

Buah dari perjuangan tersebut adalah sebuah kesuksesan, sejak tahun 2002 banyak turis datang untuk menyaksikan eksotisme daerah ini. Akhirnya dari para turis inilah tersebar kisah perihal keindahan arsitektur dan keadaan budaya Wae Rebo.

Ketika kau mendatangi Wae Rebo, kamu tidak akan cuma menyaksikan perumahan Manggaraian asli, tetapi juga mendapatkan potensi untuk mengalami kehidupan sehari-hari penduduk lokal.

Sebagian besar orang bekerja di kebun mereka dari pagi hingga subuh, ada juga yang sibuk dengan panen kopi dan pengolahan kacang. Kamu juga mampu melihat para perempuan di Wae Rebo yang melakukan acara menenun kain songket tradisional, meskipun menenun ini bukanlah aktivitas utama para penduduk wanita Wae Rebo.

Baca juga : 5 Hal yang Harus Kamu Lakukan di Labuan Bajo

Bila mau, kau juga bisa merasakan menginap di Niang Mbaru, menikmati makan malam dan bersosialisasi dengan masyarakat Wae Rebo secara langsung. Selama bermalam di sana, kau akan tidur beralaskan tikar yang dianyam dari daun pandan lengkap dengan kehangatan keluarga yang tinggal di sana.

Baca juga : 11 Tempat Wisata Terbaik Indonesia. Luar Negeri kalah!

 

Artikel Menarik Lainnya:

× Butuh Bantuan? Chat Sekarang!